Oleh: suhartoumm | Juli 6, 2009

PEGUKURAN DATA

Pengukuran Data
(Oleh: Suharto)

Seperti kita ketahui tujuan diadakannya suatu observasi (pengamatan) diantaranya adalah dengan mencari dan memperoleh keterangan bagaimana kondisi suatu obyek pada berbagai keadaan yang ingin diperhatikan. Kondisi mengenai obyek yang sedang diteliti dan sudah berbentuk keterangan, akan didapatkan bila sebelumnya kita melakukan pengukuran terhadap obyek pengamatan dengan baik dan benar. Dalam kegiatan penelitian, sebelum melakukan observasi terhadap variabel yang akan diukur, lazimnya mahasiswa perlu menentukan tingkat (skala) pengukurannya (scale of measurement). Hal ini menjadi penting dilakukan karena tingkat pengukuran akan mempengaruhi metode statistika yang digunakan dan memberikan dampak pada kualitas informasi yag akan disajikan.

Dalam ilmu statistika, tingkat pengukuran yang mungkin dihasilkan untuk mengukur obyek amatan dibedakan menjadi empat macam, yakni: tingkat pengukuran nominal, ordinal, interval dan ratio. Tingkat pengukuran dengan skala nominal dan ordinal disebut juga skala pengukuran kualitatif, karena tidak numeric, seperti suku, jenis kelamin, status perkawinan, dan status pekerjaan, sedangkan tingkat pengukuran interval dan ratio disebut sebagai tingkat pengukuran kuantitatif, karena pengukurannya bisa diekspresikan secara numeric, seperti tinggi, berat, panjang, biaya, dan pendapatan.

Tingkat pengukuran nominal dilakukan dengan cara mengklasifikasikan (menggolong-golongkan) obyek atau kejadian-kejadian ke dalam berbagai kelompok (kategori) untuk menunjukkan kesamaan atau perbedaan ciri-ciri obyek yang diamati. Kategori-kategori (kelompok) ini didefinisikan sebelumnya dan dilambangkan  dengan kata-kata, huruf, symbol, atau angka. Hasil pengukurannya tentu saja bisa dibedakan akan tetapi tidak bisa diurutkan mana yang lebih tinggi, mana yang lebih rendah, mana yang lebih utama dan mana yang lebih dikesampingkan. Tingkat pengukuran nominal adalah kualitatif, tegasnya bukan kuantitatif. Mengkuantifikasikan tingkat pengukuran nominal lazimnya dilakukan dengan  cara menghitung frekuensi dari obyek yang diukur. Misalnya tentang Partai: Partai Bulan = 1, Partai Bintang = 2, dan Partai Matahari = 3. Jenis kelamin: Laki-laki = 1 dan Perempuan = 2; Jenis pekerjaan: PNS = 1; TNI/POLRI = 2; Karyawan swasta = 3; Pedagang = 4; Petani = 5 dan Buruh = 6. Warna kulit: Hitam = 1, Sawo matang = 2, Putih = 3 dan Cokelat = 4. Jenis olah raga, Warna mobil, Suku, dan lain lain.

Dalam tingkat pengukuran ordinal obyek-obyeknya bisa digolongkan dalam kategori tertentu. Angka atau huruf yang diberikan mengandung tingkatan, sehingga dari kelompok yang terbentuk dapat dibuat peringkat yang menyatakan hubungan  lebih dari atau kurang dari menurut aturan penataan tertentu. Bilangan/angka/huruf yang diberikan kepada objek hanya menyatakan tempat dalam suatu susunan akan tetapi tidak menyakatan apa-apa mengenai jarak dari satu satu datum ke datum lainnya atau tidak memberikan nilai absolute pada objek. Simbol numericnya hanya merupakan urutan (ranking) relative saja, dan peringkat tersebut tidak mempunyai satuan ukur. Dengan demikian jarak atau beda nilai-nilainya tidak diukur. Ciri lain dari  skala ordinal juga tidak mengenal nol, sehingga perankingannya pun dimulai dari satu. Tingkat pengukuran ordinal adalah kualitatif. Mengkuantifikasikan tingkat pengukuran ordinal adalah dengan cara menghitung frekuensinya, dan dibuat rangkingnya. Contoh : Sangat baik = 1, Baik = 2, Cukup = 3, Kurang baik = 4, dan Buruk = 5. Atau jawaban pertanyaan tentang kecenderungan masyarakat untuk menghadiri Kampanye Presiden, mulai dari tidak pernah absen menghadiri = 5, kadang-kadang saja menghadiri = 4, kurang menghadiri = 3, tidak pernah menghadiri = 2 sampai  tidak ingin menghadiri sama sekali = 1. Atau kedudukan mahasiswa: mahasiswa semester 1, semester 2, semester 3, semester 4, semester 5, semester 6 dan semester 7.

Tingkat pengukuran interval memberikan ciri angka kepada kelompok obyek yang selain memiliki skala nominal dan ordinal, akan tetapi juga ditambah dengan jarak yang sama pada urutan obyeknya. Kategori yang digunakan bisa dibedakan, diurutkan, mempunyai jarak tertentu, tetapi tidak bisa dibandingkan. Selain itu skala interval juga tidak memiliki nilai nol mutlak. Datanya bisa ditambahkan, dikurangi, digandakan dan dibagi tanpa mempengaruhi jarak relative skor-skornya. Contoh skala pada thermometer dan prestasi mahasiswa.

Tingkat pengukuran ratio memiliki seluruh sifat, yakni nominal, ordinal,  interval tetapi ditambah dengan satu sifat lain, yakni memberikan keterangan nol mutlak dari objek yang diukur. Ciri lain dari skala ratio adalah data bisa dibedakan, diurutkan, mempunyai jarak tertentu dan bisa dibandingkan. Contoh, pendapatan, panjang benda, berat benda.

Sumber bacaan:

  1. Ating Somantri dan Sambas Ali Muhidin, 2006. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian Penerbit, Pustaka Setia, Bandung.
  2. Suharto, 2007. Kumpulan kuliah Pengantar Statistik, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Metro .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: