Oleh: suhartoumm | September 5, 2009

VALIDITAS dan RELIABILITAS

VALIDITAS dan RELIABILITAS INSTRUMEN
(Alat Ukur dan Pengukuran Data)
(Oleh: Suharto)
A. Pendahuluan
Fenomena akademik yang sering temui dalam penelitian mahasiswa diantaranya adalah ketika munculnya persoalan validitas dan reliabilitas alat ukur yang akan digunakan untuk mengkaji gejala-gejala empiris dalam ilmu-ilmu sosial. Persoalan yang berkenaan dengan validitas dan reliabilitas alat ukur itu, memerlukan jawaban pasti sebelum digunakan untuk mengamati gejala-gejala empiris dalam penelitian. Gejala empiris memang hanya bisa di amati secara objektif ketika validitas dan reliabilitas sudah dimiliki oleh alat ukur yang akan digunakan untuk mengamati fenomena-fenomena dalam penelitian. Tanpa validitas dan reliabilitas alat ukur, kita tidak akan mungkin memperoleh hasil penelitian yang representatif terutama bila kesimpulannya akan di generalisasikan ke populasi. Karena dalam ilmu-ilmu dan masalah sosial, gejala empirik yang sering ditemui merupakan gejala yang memiliki keragaman yang harus dibahas sesuai dengan kajian teori yang benar, tidak melanggar kaidah dan tidak bertentangan dengan kelaziman.
Dalam masalah sosial, persoalan penentuan alat ukur yang dibuat dengan asal jadi, tanpa memperhitungkan validitas dan reliabilitasnya, akan menyebabkan interpretasi yang bermacam-macam dan bisa memberikan alternatif jawaban yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi, kapan dan dimana suatu alat ukur itu akan digunakan. Jika salah dalam penerapan, jawaban yang diperoleh bukan akan memerikan informasi yang baik dan benar, akan tetapi justru akan memberikan informasi yang keliru danakan berdampak terhadap kesimpulan yang dibuat.
Misalnya saja tentang jawaban yang diperoleh dari alat ukur yang digunakan untuk mengukur tentang motivasi kerja sebuah perusahaan yang diberikan pada karyawan/buruh sampel pada tanggal muda setelah gajian, akan memberikan nilai yang berbeda dengan alat ukur yang diberikan ketika karyawan/buruh sampel pada saat tanggal tua ketika cadangan uang belanja karyawan makin menipis.
Jawaban terhadap alat ukur yang diberikan kepada karyawan/buruh sampel pada saat kenaikan gaji berkala, akan memiliki kecenderungan yang berbeda dengan jawaban terhadap alat ukur yang diberikan terhadap karyawan/buruh sampel dalam kondisi biasa ketika karyawan sudah lama tidak memperoleh kenaikan gaji. Perbedaan demi perbedaan itu akan terjadi sepanjang alat ukur yang digunakan itu tidak memiliki validitas dan reliabilitas. Apalagi alat ukur yang digunakan itu digunakan dalam dimensi ilmu-ilmu sosial, dan tidak dalam dimensi ilmu natura.
Dalam ilmu natura, baik kapan dan dimana, kita akan menyetujui bahwa mengukur satuan liter akan menggunakan takaran yang sudah di tera oleh badan metrologi. Berat benda dengan ons, kg dan ton, dll. Panjang dan tinggi benda dengan satuan centi dan meter. Karena meteran, batu timbangan, dan takaran liter, masing-masing adalah merupakan alat ukur yang memiliki validitas dan reliabilitas. Batu timbangan, takaran dan meteran, merupakan alat ukur yang relatif memberikan hasil sama meskipun pengukurannya dilakukan terhadap objek yang berbeda maupun terhadap objek yang sama dan dilakukan berulang-ulang.
Dalam penelitian, persyaratan minimal yang harus dimiliki oleh kuesioner yang dibuat sebagai alat ukur yakni harus memiliki minimal dua keunggulan, yaitu validitas dan reliabilitas. Validitas adalah merupakan alat ukur yang bila digunakan akan mampu memberikan informasi yang sesungguhnya tentang apa yang kita inginkan untuk diukur. Alat ukur demikian berarti valid. Sedangkan bila instrument yang dibuat sebagai alat ukur itu memiliki konsistensi dari beberapa kali pelaksanaan pengukuran akan tetap memperoleh hasil yang relative sama dinamakan reliabel.
Dengan demikian, validitas dan reliabilitas merupakan dua syarat minimal yang harus dimiliki oleh alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Misalnya saja jika dalam suatu kesempatan kita ingin mengetahui tentang tinggi sebuah lemari. Untuk mengukur tinggi lemari, tentu saja pikiran kita langsung tertuju pada meteran, karena selain meteran adalah susuatu yang sering kita gunakan untuk mengukur tinggi dan panjang benda, meteran juga merupakan salah satu alat ukur yang valid.
Dengan alat ini kita akan memperoleh informasi tentang berapa meter tinggi, panjang dan lebar lemari. Tinggi badan orang dewasa juga merupakan alat yang bisa digunakan untuk mengukur ketinggian lemari. Akan tetapi kita tidak bisa menggunakan timbangan untuk megukur ketinggian lemari. Selain itu, pengukuran dengan jengkal tangan juga merupakan cara yang bisa dilakukan. Namun tidak demikian halnya jika kita gunakan termometer badan. Bagaimana kita bisa memperoleh tinggi meja hanya dengan sebuah termometer?
.
.
Penggunaan Uji t dan Uji r dalam Validitas
(Oleh: Suharto)
A. Pendahuluan
Menyusul penggunaan statistik parametrik sebagai alat analisis yang dilakukan mahasiswa dalam memperlakukan data interval dan ratio, belakangan ini relatif ramai dibicarakan tentang penggunaan statistik non parametrik sebagai salah satu alternatif alat analisis dalam penelitian. Statistik parametrik, selain memerlukan persyaratan khusus, yakni harus memenuhi kriteria normalitas data, akan tetapi lazim digunakan jika data yang dianalisis adalah data yang memiliki skala minimal interval atau ratio.
Secara teori, statistik parametrik memiliki kajian yang lebih kuat dibandingkan dengan statistik non parametrik. Statistik parametrik memiliki kemampuan generalisasi yang lebih kuat ketika data yang digunakan memiliki sebaran normal. Statistik parametrik memiliki kemampuan memberikan kesimpulan secara numerik lebih baik jika dibandingkan dengan kemampuan statistik non parametrik.
Akan tetapi bila data yang digunakan tidak memiliki sebaran normal, atau kurang memenuhi syarat dalam distribusi normal, statistik non parametrik menjadi pilihan dan lazim digunakan meskipun data yang dianalisis kurang memberikan harapan dalam kajian penelitian. Statistik non parametrik disatu pihak, hanya mengukur distribusi. Selain itu, statistik non parametrik, hanya memerlukan perhitungan-perhitungan yang relatif sederhana. Penggunaan statistik non parametrik dalam penelitian mahasiswa, lebih banyak menggunakan instrumen penelitian, kuisioner atau alat ukur untuk menghasilkan data dengan cara menggali respon dari sampel.
B. Pembahasan
Kajian tentang penggunaan instrumen sebagai alat ukur itu tentu saja memerlukan kecermatan dan ketelitian dalam pembuatannya. Karena dari instrumen itu, responden akan memberikan jawaban kepada kita tentang data-data yang diperlukan dalam penelitian. Data yang baik, hanya akan diperoleh dengan instrumen atau alat ukur yang baik. Data yang valid, hanya akan diperoleh bila data yang diperoleh memiliki validitas.
Sedangkan data yang reliabel hanya bisa dipeoleh bila instrumen yang kita kemukakan memiliki reliabilitas. Karena memiliki reliabilitas dan validitas, hanya akan diberikan oleh intrumen yang valid dan reliabel.
Untuk memperolah instrumen yang valid dan reliabel itu diantaranya adalah harus melalui mekanisme pengujian secara statistik dengan benar.
Beberapa alasan tentang perlu tidaknya pengujian secara statistik tentang penggunaan instrumen sebagai alat ukur dalam penelitian akan dibahas secara sederhana dalam tulisan ini. Alasan pertama adalah peluang terjadinya kesalahan yang disebabkan oleh satu peubah bebas X, yakni kesalahan yang terjadi karena instrumen yang tidak valid dan reliabel. Instrumen tidak memberikan informasi yang benar bagi responden sehingga menimbulkan keraguan dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan.
Sedangkan alasan kedua adalah kesalahan yang terjadi dalam diri responden. Instrumen sudah baik, valid dan reliabel. Akan tetapi jawaban yang diberikan pleh responden merupakan jawaban yang asal jadi, asal menjawab, dan bahkan secara sengaja tidak bersedia memberikan jawaban apa yang seharusnya di jawab. Menurut Sambas (2006), terdapat dua pendapat tentang perlu tidaknya digunakan uji t dalam uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan statistika.
Pendapat pertama menyebutkan bahwa untuk menguji validitas an reliabilitas tidak perlu digunakan uji t, tetapi cukup dengan menghitung nilai r, kemudian nilai r yang sudah diperoleh itu dibandingkan dengan nilai tabel r untuk mengetahui valid atau tidaknya instrumen yang sudah dibuat. Sementara pendapat kedua menyebutkan, setelah menghitung nilai r, harus dilanjutkan dengan uji t, kemudian membandingkannya dengan nilai r tabel untuk mengetahui valid atau tidaknya instrumen.
Berkaitan dengan adanya perbedaan pendapat tentang perlu tidaknya digunakan uji t dalam uji validitas dan reliabilitas, maka perlu ditegaskan disini, bahwa kedua pendapat di atas adalah benar. Artinya penggunaan uji r dan uji t dalam pengujian validitas dan reliabilitas dalam pengukuran alat ukur lazim digunakan dalam penelitian. Namun demikian ada syarat yang perlu dipenuhi oleh keduanya.
Pertama, pengujian validitas cukup menggunakan nilai keofisien korelasi apabila responden yang dilibatkan dalam pengujian validitas adalah populasi. Artinya, keputusan valid tidaknya item instrumen, cukup membandingkan nilai r hitung dengan nilai tabel r. Kedua, pengujian validitas perlu menggunakan uji t apabila responden yang dilibatkan dalam pengujian validitas adalah sampel. Artinya, keputusan valid atau tidaknya item instrumen, tidak bisa dilakukan hanya dengan membandingkan nilai r hitung dengan nilai r tabel, tetapi harus dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t tabel.
C. Penutup
Dalam hal ini dapat dijelaskan, bahwa pengujian validitas/relibilitas dengan sensus (populasi) tidak diperlukan generalisasi atau penarikan kesimpulan yang bersifat umum, karena seluruh anggota populasi dilibatkan dalam penelitian sehingga kesimpulan yang dibuat berlaku untuk populasi itu sendiri.
Sementara dalam pengujian validitas/reliabilitas dengan sampel, generalisasi diperlukan, karena tidak semua anggota populasi dilibatkan sebagai responden, oleh karena itu generalisasi harus dilakukan, apabila tidak dilakukan generalisasi maka kesimpulan yang dibuat hanya berlaku untuk anggota sampel yang terlibat langsung sebagai responden, tidak untuk populasi. Dalam metode statistika, kegiatan untuk membuat generalisasi dilakukan dengan menggunakan pengujian statistik tertentu.
Dengan demikian, pengujian statistik adalah merupakan pengujian terhadap karakteristik sampel agar dapat diambil kesimpulan yang bersifat umum. Atau dengan kata lain, kesimpulan yang dibuat dianggap mewakili seluruh keberadaan/karakterisrik/apa yang terjadi dalam populasi.
Daftar Pustaka:
  1. Suharto, Kumpulan Bahan Kuliah Statistika, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Metro, 2007.
  2. Murray R. Spiegel, Seri Buku Schaum, Teori dan Soal, Statistika, Edisi Kedua. Alih Bahasa oleh Drs. I Nyoman Susila, M.Sc. dan Ellen Gunawan, M.M. Penerbit Erlangga, 1988.
  3. Zaenal Mustafa, Pengantar Statistik Terapan Untuk Ekonomi, Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 1995.

About these ads

Responses

  1. Trimakasih sumbangsih ilmu amaliah & amal ilmiahnya. Smg bermanfaat unt perkembangan penelitian di tanah air.

    • Iya mas…terimakasih.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 300 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: